ketika melihat mu senang ku ikut senang
ketika melihat mu sedih ku ikut sedih
setiap hari setiap menit setiap detik ku selalu bersama mu
kau teman sekaligus kekasih ku yang menemani hari - hari ku
dikala pagi, sampai senja kau temani terus aku
kau segalanya bagi ku
hanya kamu yang aku sayang dan aku cintai
sampai diujung waktu ku aku ingin tetap bersama mu
12 - 02 -11
Selasa, 05 Juni 2012
memerangi kecoa
tips dan trik mengatasi kecoa
kecoa adalah makhluk kecil yang sangat menyebalkan dan menjengkelkan .kecoa ini adalah salah satu binatang yang paling dibenci dan tidak di sukai oleh orang orang karena kecoa ini suka bermain main di tempat sampah dan menyebarkan kuman penyakit .
saya akan memberikan tips dalam mengatasi kecoa ini adalah dengan menyiramkan kecoa, karena you know what kecoa sangat membenci dengan bau dari si minyak tanah , jadi buat teman teman yang sangat membenci si kecoa ini selalu siapkan minyak tanah di rumah anda .
kecoa adalah makhluk kecil yang sangat menyebalkan dan menjengkelkan .kecoa ini adalah salah satu binatang yang paling dibenci dan tidak di sukai oleh orang orang karena kecoa ini suka bermain main di tempat sampah dan menyebarkan kuman penyakit .
saya akan memberikan tips dalam mengatasi kecoa ini adalah dengan menyiramkan kecoa, karena you know what kecoa sangat membenci dengan bau dari si minyak tanah , jadi buat teman teman yang sangat membenci si kecoa ini selalu siapkan minyak tanah di rumah anda .
Kamis, 03 Mei 2012
sejarah dan tarian khas jawa tenggah
I PENDAHULUAN
- LATAR BELAKANG
Sejak abad VII, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah (Central Java), yaitu: Kerajaan Budha Kalingga, Jepara yang diperintah oleh Ratu Sima pada tahun 674. Menurut naskah/prasasti Canggah tahun 732, kerajaan Hindu lahir di Medang, Jawa Tengah dengan nama Raja Sanjaya atau Rakai Mataram. Dibawah pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, ia membangun Candi Rorojonggrang atau Candi Prambanan. Kerajaan Mataram Budha yang juga lahir di Jawa Tengah selama era pemerintahan Dinasti Syailendra, mereka membangun candi-candi seperi Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan dll. Pada abad 16 setelah runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, sejak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, Djoko Tingkir anak menantu Raja Demak (Sultan Trenggono) memindahkan kerajaan Demak ke Pajang (dekat Solo). Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya. Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar adalah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang. Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati. Di pertengahan abad 16 bangsa Portugis dan Spanyol datang ke Indonesia dalam usaha mencari rempah-rempah yang akan diperdagangkan di Eropa. Pada saat yang sama, bangsa Inggris dan kemudian bangsa Belanda datang ke Indonesia juga. Dengan VOC-nya bangsa Belanda menindas bangsa Indonesia termasuk rakyat Jawa Tengah baik dibidang politik maupun ekonomi. Di awal abad 18 Kerajaan Mataram diperintah oleh Sri Sunan Pakubuwono II, setelah beliau wafat muncul perselisihan diantara keluarga raja yang ingin memilih/menunjuk raja baru. Perselisihan bertambah keruh setelah adanya campur tangan pemerintah Kolonial Belanda pada perselisihan keluarga raja tersebut. Pertikaian ini akhirnya diselesaikan dengan Perjanjian Gianti tahun 1755. Kerajaan Mataram terbagi menjadi dua kerajaan yang lebih kecil yaitu Surakarta Hadiningrat atau Kraton Kasunanan di Surakarta dan Ngayogyakarta Hadiningrat atau Kraton Kasultanan di Yogyakarta. Sampai sekarang daerah Jawa Tengah secara administratif merupakan sebuah propinsi yang ditetapkan dengan Undang-undang No. 10/1950 tanggal 4 Juli 1950. Jawa Tengah sebagai salah satu Propinsi di Jawa, letaknya diapit oleh dua Propinsi besar, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Letaknya 5o40′ dan 8o30′ Lintang Selatan dan antara 108o30′ dan 111o30′ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Jarak terjauh dari Barat ke Timur adalah 263 Km dan dari Utara ke Selatan 226 Km (tidak termasuk pulau Karimunjawa). Secara administratif Propinsi Jawa Tengah terbagi menjadi 29 Kabupaten dan 6 Kota. Luas Wilayah Jawa Tengah sebesar 3,25 juta hektar atau sekitar 25,04 persen dari luas pulau Jawa (1,70 persen luas Indonesia). Luas yang ada terdiri dari 1,00 juta hektar (30,80 persen) lahan sawah dan 2,25 juta hektar (69,20 persen) bukan lahan sawah. Menurut penggunaannya, luas lahan sawah terbesar berpengairan teknis (38,26 persen), selainnya berpengairan setengah teknis, tadah hujan dan lain-lain. Dengan teknik irigasi yang baik, potensi lahan sawah yang dapat ditanami padi lebih dari dua kali sebesar 69,56 persen. Berikutnya lahan kering yang dipakai untuk tegalan/kebun/ladang/huma sebesar 34,36 persen dari total bukan lahan sawah. Persentase tersebut merupakan yang terbesar, dibandingkan presentase penggunaan bukan lahan sawah yang lain. Menurut Stasiun Klimatologi Klas 1 Semarang, suhu udara rata-rata di Jawa Tengah berkisar antara 18oC sampai 28oC. Tempat-tempat yang letaknya dekat pantai mempunyai suhu udara rata-rata relatif tinggi. Sementara itu, suhu rata-rata tanah berumput (kedalaman 5 Cm), berkisar antara 17oC sampai 35oC. Rata-rata suhu air berkisar antara 21oC sampai 28oC. Sedangkan untuk kelembaban udara rata-rata bervariasi, dari 73 persen samapai 94 persen. Curah hujan terbanyak terdapat di Stasiun Meteorologi Pertanian khusus batas Salatiga sebanyak 3.990 mm, dengan hari hujan 195 hari.
- TUJUAN
Jawa Tengah sebagai provinsi dibentuk sejak zaman Hindia Belanda. Hingga tahun 1905, Jawa Tengah terdiri atas 5 wilayah yakni Semarang, Rembang, Kedu, Banyumas, dan Pekalongan. Surakarta masih merupakan daerah swapraja kerajaan yang berdiri sendiri dan terdiri dari dua wilayah, Kasunanan Surakarta dan Mangkunegaran, sebagaimana Yogyakarta. Masing-masing terdiri atas kabupaten-kabupaten. Waktu itu Rembang juga meliputi Tuban dan Bojonegoro.
Setelah diberlakukannya Decentralisatie Besluit tahun 1905, gewesten diberi otonomi dan dibentuk Dewan Daerah. Selain itu juga dibentuk kotapraja yang otonom, yaitu Pekalongan, Tegal, Semarang, Salatiga, dan Magelang.
Sejak tahun 1930, provinsi ditetapkan sebagai daerah otonom yang juga memiliki Dewan Provinsi. Provinsi terdiri atas beberapa karesidenan, yang meliputi beberapa kabupaten, dan dibagi lagi dalam beberapa kawedanan. Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 5 karesidenan, yaitu: Pekalongan, Jepara-Rembang, Semarang, Banyumas, dan Kedu.
Menyusul kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1946 Pemerintah membentuk daerah swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran; dan dijadikan karesidenan. Pada tahun 1950 melalui Undang-undang ditetapkan pembentukan kabupaten dan kotamadya di Jawa Tengah yang meliputi 29 kabupaten dan 6 kotamadya. Penetapan Undang-undang tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah, yakni tanggal 15 Agustus 1950.
Sejak tahun 1930, provinsi ditetapkan sebagai daerah otonom yang juga memiliki Dewan Provinsi. Provinsi terdiri atas beberapa karesidenan, yang meliputi beberapa kabupaten, dan dibagi lagi dalam beberapa kawedanan. Provinsi Jawa Tengah terdiri atas 5 karesidenan, yaitu: Pekalongan, Jepara-Rembang, Semarang, Banyumas, dan Kedu.
Menyusul kemerdekaan Indonesia, pada tahun 1946 Pemerintah membentuk daerah swapraja Kasunanan dan Mangkunegaran; dan dijadikan karesidenan. Pada tahun 1950 melalui Undang-undang ditetapkan pembentukan kabupaten dan kotamadya di Jawa Tengah yang meliputi 29 kabupaten dan 6 kotamadya. Penetapan Undang-undang tersebut hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah, yakni tanggal 15 Agustus 1950.
II ISI
- PEMBAHASAN
- Tari Serimpi
Serimpi merupakan salah satu jenis tarian klasik dari Daerah
Istimewa Yogyakarta. Ada juga yang mengatakan, Serimpi merupakan tarian
Yogyakarta yang bernuansa mistik. Kata Serimpi diadopsi dari bahasa
Jawa yang adalah sinonim dari bilangan empat. Inilah yang seringkali menjadi
alasan, mengapa jumlah penari Serimpi umumnya berjumlah empat orang. Konon,
keempat orang penari Serimpi juga dianggap sebagai lambang dari empat unsur
yang ada di dunia yaitu api, udara, air, dan angin. Ada juga yang menyebutkan,
nama Srimpi dikaitkan dengan kata mimpi. Karena selama kurang lebih 45 menit,
gerakan lemah gemulai menjadi ciri khas dari tarian Serimpi. Gerakan inilah
yang kemudian dianggap dapat membawa penonton seolah ke alam mimpi.
2. Tari Golek
Merupakan salah satu jenis tari klasik gaya Yogyakarta yang
iciptakan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX. Penciptaan tari Golek Menak
berawal dari ide sultan setelah menyaksikan pertunjukkan Wayang Golek Menak
yang dipentaskan oleh seorang dalang dari daerah Kedu pada tahun 1941. Disebut
juga Beksa Golek Menak, atau Beksan Menak. Mengandung arti menarikan wayang
Golek Menak.
3. Tari Bedaya
Tarian keraton yang dipentaskan dalam acara resmi oleh tujuh
atau sembilan penari wanita yang belum menikah dengan irama lembut dan gerak gemulai.
Koreografi tarian bedaya merupakan formasi kelompok dengan pola dasar
asimetris. Jalan cerita dibacakan seorang narator (dalang) dalam bentuk prosa
dan nyanyian dengan diiringi paduan suara (gerong) serta gamelan.
4. Tari Merak
Tari Merak merupakan tarian kreasi baru dari tanah
Pasundan yang diciptakan oleh Raden Tjetjep Somantri pada tahun 1950an dan
dibuat ulang oleh dra. Irawati Durban pada tahun 1965.
Banyak orang salah kaprah mengira jika tarian ini
bercerita tentang kehidupan dan keceriaan merak betina, padahal tarian ini
bercerita tentang pesona merak jantan yang terkenal pesolek untuk menarik hati
sang betina.
Sang jantan akan menampilkan keindahan bulu ekornya
yang panjang dan berwarna-warni untuk menarik hati sang betina. Gerak gerik
sang jantan yang tampak seperti tarian yang gemulai untuk menampilkan pesona
dirinya yang terbaik sehingga sang betina terpesona dan melanjutkan ritual
perkawinan mereka.
Setiap gerakan penuh makna ceria dan gembira,
sehingga tarian ini kerap digunakan sebagai tarian persembahan bagi tamu atau
menyambut pengantin pria menuju pelaminan.
Kostumnya yang berwarna warni dengan aksen khas
burung merak dan ciri khas yang paling dominan adalah sayapnya dipenuhi dengan
payet yang bisa dibentangkan oleh sang penari dengan satu gerakan yang anggun
menambah indah pesona tarian ini, serta mahkota yang berhiaskan kepala burung
merak yang disebut singer yg akan bergoyang setiap penari menggerakkan
kepalanya.
Dalam setiap acara tari Merak paling sering
ditampilkan terutama untuk menyambut tamu agung atau untuk memperkenalkan
budaya Indonesia terutama budaya Pasundan ke tingkat Internasional.
III. KESIMPULAN
Sejak abad VII, banyak terdapat pemerintahan kerajaan yang berdiri di Jawa Tengah (Central Java), yaitu: Kerajaan Budha Kalingga, Jepara yang diperintah oleh Ratu Sima pada tahun 674. Menurut naskah/prasasti Canggah tahun 732, kerajaan Hindu lahir di Medang, Jawa Tengah dengan nama Raja Sanjaya atau Rakai Mataram. Dibawah pemerintahan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya, ia membangun Candi Rorojonggrang atau Candi Prambanan. Kerajaan Mataram Budha yang juga lahir di Jawa Tengah selama era pemerintahan Dinasti Syailendra, mereka membangun candi-candi seperi Candi Borobudur, Candi Sewu, Candi Kalasan dll. Pada abad 16 setelah runtuhnya kerajaan Majapahit Hindu, kerajaan Islam muncul di Demak, sejak itulah Agama Islam disebarkan di Jawa Tengah. Setelah kerajaan Demak runtuh, Djoko Tingkir anak menantu Raja Demak (Sultan Trenggono) memindahkan kerajaan Demak ke Pajang (dekat Solo). Dan menyatakan diri sebagai Raja Kerajaan Pajang dan bergelar Sultan Adiwijaya. Selama pemerintahannya terjadi kerusuhan dan pemberontakan. Perang yang paling besar adalah antara Sultan Adiwijaya melawan Aryo Penangsang. Sultan Adiwijaya menugaskan Danang Sutowijaya untuk menumpas pemberontakan Aryo Penangsang dan berhasil membunuh Aryo Penangsang. Dikarenakan jasanya yang besar kepada Kerajaan Pajang, Sultan Adiwijaya memberikan hadiah tanah Mataram kepada Sutowijaya. Setelah Pajang runtuh ia menjadi Raja Mataram Islam pertama di Jawa Tengah dan bergelar Panembahan Senopati.
IV. SARAN
Sebagai anak bangsa indonesia kita harus mengenali tari-tari dari daerah jawa tenggah atau pun daerah yang lain. Dan kita juga bisa belajar tarian tersebut dan mempopulerkan kembali kepada generasi penerus kita yang lainnya. Agar bangsa kita bebas dari pemindah tangan lagi tari-tari negara indonesia kita ini dari tangan penjajah atau dari negara lain.
Sabtu, 14 April 2012
pemimpin baik yang berhasil atau gagal berdasarkan pendekatan dan perilaku dan ciri khas
Definisi Pemimpin
Seorang pemimpin adalah orang yang spesial dibandingkan dengan orang biasa dipimpin. Sangat jarang orang yang bisa memimpin. Dan lebih jarang lagi yang bisa memimpin dengan konsisten. Bukan karena apa-apa, emang susah jadi pemimpin kayak gitu. Cita-cita saya memang jadi pemimpin diri sendiri, keluarga, lingkungan, negara, insya Allah dunia (Amiin). Rasulullah pernah bersabda, “Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban”, jadi kalau jadi pemimpin jangan tanggung-tanggung. Berikut adalah sedikit pandangan saya sekarang tentang pemimpin.
Jangan lihat seorang pemimpin dari track recordnya. Seorang bisa saja, bisa saja sukses untuk menjadi memimpin sesuatu di masa lalu, tapi tidak ada jaminan dia bisa menjadi pemimpin sukses saat ini atau di masa datang walaupun yang dipimpin adalah hal yang sama. Mengapa saya mengatakan seperti itu? Seorang berhasil memimpin dengan sukses adalah berkat usahanya untuk terus belajar. Setiap detik dan setiap pengalaman yang dialami saat menjadi seorang pemimpin adalah ilmu baru yang harus terus dipelajari dan disikapi. Jadi sudah semestinya bagi seorang pemimpin untuk terus belajar. Yang dipimpin boleh saja sama tetapi percayalah sebenarnya walaupun sedikit pasti ada perubahan karena dunia tidak diam tetapi terus berubah.
Coba kita belajar dari sejarah para pemimpin besar dunia. Ambil contoh yang dekat saja, mulai dari negeri sendiri. Hmm… Masih inget Mr. Soeharto?Terlepas dari apa yang telah dia perbuat, sebenarnya dari dia kita bisa ambil pelajaran. Ketika pertama kali jadi presiden, dia adalah sosok pembelajar yang bisa dibilang hebat lah, buktinya dia adalah revolusioner yang mengubah sistem yang ada (baca: orde lama), menjadi sistem yang lebih baik (baca: orde baru). Yang berarti dia belajar dari kekurangan sistem orde lama dan memperbaiki kekurangan yang ada tersebut dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada sehingga terciptalah orde baru.
Memang tidak terlalu sulit menjadi pembelajar hebat, tetapi sangat sulit untuk menjadi pembelajar hebat yang konsisten. Seorang pemimpin yang telah mendapatkan kesuksesan biasanya terbuai, terlena dengan kesuksesannya itu dan menganggap seolah dunia ini berhenti dan mengikuti dirinya, padahal tidak, dunia akan terus berubah, dan seorang pemimpin harus terus belajar untuk menyikapi itu Balik lagi ke contoh Mr. Soeharto. Kalau menurut saya untuk masa-masa awal beliau adalah seorang pemimpin yang sukses, buktinya Indonesia pada saat masa kepemimpinannya sempat dijuluki “Macan Asia” (sekarang kucing Asia atau kodok Asia :p). Sungguh malang sepertinya Bapak kita itu terlena dan lupa kalau perubahan selalu walaupun sedikit demi sedikit, tapi lama-lama menjadi bukit . Akhirnya terjadi ke-tidakrelevan-an yang besar antara kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan beliau dengan kondisi yang ada. Nah kalau sudah begini diperlukan pembelajaran yang sekaligus banyak sekali , dan untuk itu diperlukan revolusi
Buat para pemimpin dan calon pemimpin (Insya Allah saya juga), kalau ada perubahan sebaiknya langsung disikapi aja, daripada nanti numpuk di belakang. Masa setiap kali diperlukan revolusi terus sih….
Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan
Ciri Pemimpin yang Baik :
Ada beberapa ciri pemimpin yang baik, yang akan berhasil dalam kepemimpinannya.
Senantiasa bersikap adil dan menjunjung tinggi kebenaran. Begitu pentingnya masalah ini sampai-sampai Rasulullah menyatakan sejamnya keadilan pemimpin jauh lebih baik dibandingkan dengan seribu rakaat shalat sunnah (al-hadits). Pemimpin yang adil, disamping ilmunya para ulama, kepemurahannya kaum kaya, dan doanya kaum dhuafa akan menjadi pilar utama.
Senantiasa menjadi pengayom dan pembela masyarakat, sehingga masyarakat merasa aman dan terlindungi. Kehidupan menjadi tenteram dan bahagia. Kebijakan yang dikeluarkan pun tidak akan menjadi kebijakan yang merugikan rakyat. Ketika terjadi konflik antara kepentingan rakyat kecil, maka ia akan lebih memilih untuk membela kepentingan rakyat kecil.
Berpihak dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah contoh pemimpin yang selalu berpatroli setiap malam, memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Demikian pula dengan khalifah Umar bin Abdul Azis, yang mampu mengentaskan kemiskinan melalui instrumen zakat, hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun. Inilah model kepemimpinan yang selalu didambakan kehadirannya oleh seluruh masyarakat kapan dan dimanapun, termasuk Negara yang kita cintai ini. Mudah-mudahan melalui pemimpin yang demikianlah, Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih baik dan sejahtera.
Tipe-tipe Kepemimpinan :
1. Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
• kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
• pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
• Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
• menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
• dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
2. Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
3. Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
Ciri-ciri pemimpin berkarakter Sebagai berikut:
1. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan kekuatan diri dan kelemahan dan usaha untuk memperbaikinya.
2. Pemimipin harusnya berempati terhadap bawahannya secara tulus.
3. Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya.
4. Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.
5. Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya.
6. Memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya.
7. Memiliki kemampuan berkomunikasi, semangat " team work ", kreatif,
percaya diri, inovatif dan mobilitas.Seorang pemimpin adalah orang yang spesial dibandingkan dengan orang biasa dipimpin. Sangat jarang orang yang bisa memimpin. Dan lebih jarang lagi yang bisa memimpin dengan konsisten. Bukan karena apa-apa, emang susah jadi pemimpin kayak gitu. Cita-cita saya memang jadi pemimpin diri sendiri, keluarga, lingkungan, negara, insya Allah dunia (Amiin). Rasulullah pernah bersabda, “Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban”, jadi kalau jadi pemimpin jangan tanggung-tanggung. Berikut adalah sedikit pandangan saya sekarang tentang pemimpin.
Jangan lihat seorang pemimpin dari track recordnya. Seorang bisa saja, bisa saja sukses untuk menjadi memimpin sesuatu di masa lalu, tapi tidak ada jaminan dia bisa menjadi pemimpin sukses saat ini atau di masa datang walaupun yang dipimpin adalah hal yang sama. Mengapa saya mengatakan seperti itu? Seorang berhasil memimpin dengan sukses adalah berkat usahanya untuk terus belajar. Setiap detik dan setiap pengalaman yang dialami saat menjadi seorang pemimpin adalah ilmu baru yang harus terus dipelajari dan disikapi. Jadi sudah semestinya bagi seorang pemimpin untuk terus belajar. Yang dipimpin boleh saja sama tetapi percayalah sebenarnya walaupun sedikit pasti ada perubahan karena dunia tidak diam tetapi terus berubah.
Coba kita belajar dari sejarah para pemimpin besar dunia. Ambil contoh yang dekat saja, mulai dari negeri sendiri. Hmm… Masih inget Mr. Soeharto?Terlepas dari apa yang telah dia perbuat, sebenarnya dari dia kita bisa ambil pelajaran. Ketika pertama kali jadi presiden, dia adalah sosok pembelajar yang bisa dibilang hebat lah, buktinya dia adalah revolusioner yang mengubah sistem yang ada (baca: orde lama), menjadi sistem yang lebih baik (baca: orde baru). Yang berarti dia belajar dari kekurangan sistem orde lama dan memperbaiki kekurangan yang ada tersebut dan menyesuaikan dengan kondisi yang ada sehingga terciptalah orde baru.
Memang tidak terlalu sulit menjadi pembelajar hebat, tetapi sangat sulit untuk menjadi pembelajar hebat yang konsisten. Seorang pemimpin yang telah mendapatkan kesuksesan biasanya terbuai, terlena dengan kesuksesannya itu dan menganggap seolah dunia ini berhenti dan mengikuti dirinya, padahal tidak, dunia akan terus berubah, dan seorang pemimpin harus terus belajar untuk menyikapi itu Balik lagi ke contoh Mr. Soeharto. Kalau menurut saya untuk masa-masa awal beliau adalah seorang pemimpin yang sukses, buktinya Indonesia pada saat masa kepemimpinannya sempat dijuluki “Macan Asia” (sekarang kucing Asia atau kodok Asia :p). Sungguh malang sepertinya Bapak kita itu terlena dan lupa kalau perubahan selalu walaupun sedikit demi sedikit, tapi lama-lama menjadi bukit . Akhirnya terjadi ke-tidakrelevan-an yang besar antara kepemimpinan dan kebijakan-kebijakan beliau dengan kondisi yang ada. Nah kalau sudah begini diperlukan pembelajaran yang sekaligus banyak sekali , dan untuk itu diperlukan revolusi
Buat para pemimpin dan calon pemimpin (Insya Allah saya juga), kalau ada perubahan sebaiknya langsung disikapi aja, daripada nanti numpuk di belakang. Masa setiap kali diperlukan revolusi terus sih….
Arti pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/ kelebihan di satu bidang sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan. Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki kecakapan dan kelebihan - khususnya kecakapan-kelebihan di satu bidang , sehingga dia mampu mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama melakukan aktivitas-aktivitas tertentu untuk pencapaian satu beberapa tujuan
Ciri Pemimpin yang Baik :
Ada beberapa ciri pemimpin yang baik, yang akan berhasil dalam kepemimpinannya.
Senantiasa bersikap adil dan menjunjung tinggi kebenaran. Begitu pentingnya masalah ini sampai-sampai Rasulullah menyatakan sejamnya keadilan pemimpin jauh lebih baik dibandingkan dengan seribu rakaat shalat sunnah (al-hadits). Pemimpin yang adil, disamping ilmunya para ulama, kepemurahannya kaum kaya, dan doanya kaum dhuafa akan menjadi pilar utama.
Senantiasa menjadi pengayom dan pembela masyarakat, sehingga masyarakat merasa aman dan terlindungi. Kehidupan menjadi tenteram dan bahagia. Kebijakan yang dikeluarkan pun tidak akan menjadi kebijakan yang merugikan rakyat. Ketika terjadi konflik antara kepentingan rakyat kecil, maka ia akan lebih memilih untuk membela kepentingan rakyat kecil.
Berpihak dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu adalah contoh pemimpin yang selalu berpatroli setiap malam, memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Demikian pula dengan khalifah Umar bin Abdul Azis, yang mampu mengentaskan kemiskinan melalui instrumen zakat, hanya dalam waktu kurang dari 2 tahun. Inilah model kepemimpinan yang selalu didambakan kehadirannya oleh seluruh masyarakat kapan dan dimanapun, termasuk Negara yang kita cintai ini. Mudah-mudahan melalui pemimpin yang demikianlah, Indonesia akan menjadi bangsa yang lebih baik dan sejahtera.
Tipe-tipe Kepemimpinan :
1. Tipe Otokratik
Semua ilmuan yang berusaha memahami segi kepemimpinan otokratik mengatakan bahwa pemimpin yang tergolong otokratik dipandang sebagai karakteritik yang negatif. Dilihat dari persepsinya seorang pemimpin yang otokratik adalah seseorang yang sangat egois. Seorang pemimpin yang otoriter akan menujukan sikap yang menonjolkan “keakuannya”, antara lain dalam bentuk :
• kecenderungan memperlakukan para bawahannya sama dengan alat-alat lain dalam organisasi, seperti mesin, dan dengan demikian kurang menghargai harkat dan martabat mereka
• pengutmaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas tanpa mengkaitkan pelaksanaan tugas itu dengan kepentingan dan kebutuhan para bawahannya.
• Pengabaian peranan para bawahan dalam proses pengambilan keputusan.
Gaya kepemimpinan yang dipergunakan pemimpin yang otokratik antara lain:
• menuntut ketaatan penuh dari para bawahannya
• dalam menegakkan disiplin menunjukkan keakuannya
2. Tipe Paternalistik
Tipe pemimpin paternalistik hanya terdapat di lingkungan masyarakat yang bersifat tradisional, umumnya dimasyarakat agraris. Salah satu ciri utama masuarakat tradisional ialah rasa hormat yang tinggi yang ditujukan oleh para anggiota masyarakat kepada orang tua atau seseorang yang dituakan.
3. Tipe Kharismatik
Tidak banyak hal yang dapat disimak dari literatur yang ada tentang kriteria kepemimpinan yang kharismatik. Memang ada karakteristiknya yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya seorang pemimpin yang kharismatik adalah seseorang yang dikagumi oleh banyak pengikut meskipun para pengikut tersebut tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tersebut dikagumi.
Ciri-ciri pemimpin berkarakter Sebagai berikut:
1. Jujur terhadap diri sendiri dan orang lain. Jujur dengan kekuatan diri dan kelemahan dan usaha untuk memperbaikinya.
2. Pemimipin harusnya berempati terhadap bawahannya secara tulus.
3. Memiliki rasa ingin tahu dan dapat didekati sehingga orang lain merasa aman dalam menyampaikan umpan balik dan gagasan-gagasan baru secara jujur, lugas dan penuh rasa hormat kepada pemimpinnya.
4. Bersikap transparan dan mampu menghormati pesaing dan belajar dari mereka dalam situasi kepemimpinan ataupun kondisi bisnis pada umumnya.
5. Memiliki kecerdasan, cermat dan tangguh sehingga mampu bekerja secara professional keilmuan dalam jabatannya.
6. Memiliki rasa kehormatan diri dan berdisiplin pribadi, sehingga mampu dan mempunyai rasa tanggungjawab pribadi atas perilaku pribadinya.
Kamis, 05 April 2012
mencintai mu
ku tak ingin beranjak pergi dan harus tetap bertahan walaupun sulit bagi ku untuk mencantai mu
sulit bagi ku tuk merubah sifat mu yang buruk, tapi aku yakin aku bisa tuk merubah mu
dengan cara kasih sayang dan cinta ku yang tulus kepada mu
walaupun cobaan demi cobaan yang ku rasakan akan ku hadapi dengan senyuman, kasih sayang dan cinta kepada mu tulus dari dalam lubuk hati ku
^_^
sulit bagi ku tuk merubah sifat mu yang buruk, tapi aku yakin aku bisa tuk merubah mu
dengan cara kasih sayang dan cinta ku yang tulus kepada mu
walaupun cobaan demi cobaan yang ku rasakan akan ku hadapi dengan senyuman, kasih sayang dan cinta kepada mu tulus dari dalam lubuk hati ku
^_^
Harapan untuk DKI Jakarta yang akan datang
Tgl 11 Juli 2012 ada pemilihan gubernur DKI Jakarta...??
Harapan saya buat calon gubernur DKI Jakarta :
- Bisa mempimpin warganya dengan bijak dan adil kepada warga yang tidak mampu
- Bisa mengatasi masalah macet di DKI dengan baik
- Bisa mengatasi banjir terutama didaerah jakarta timur walaupun sudah dibangun BKT tetap saja terjadi banjir lagi dan semakin dalam
- Dapat menjadi contoh warganya dan tidak hanya bicara saja harus riil bicaranya dengan kenyataannya
- Buat anak sekolah bisa gratis bagi yang tidak mampu dapat merasakan pendidikan yang layak
- Harus adil membagikan bantuan-bantuan kepada warga yang tidak mampu misalnya kaya beras, kesehatan, rumah yang layak
- mengatasi pengangguran walaupun sedikit susah, calon gubergunur bisa membuka usaha untuk para pengangguran
- Buat para pedangang PKL kalau tidak ada tempat yang layak bisa dibantu oleh calon gubergunur
perilaku keorganisasian kepemimpinan
Model Kepemimpinan Kontingensi
(Contingency Model)
Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara
karakteristik watak pribadi pemimpin, tingkah lakunya dan variabel-variabel
situasional. Kalau model kepemimpinan situasional berasumsi bahwa situasi yang
berbeda membutuhkan tipe kepemimpinan yang berbeda, maka model kepemimpinan
kontingensi memfokuskan perhatian yang lebih luas, yakni pada aspek-aspek
keterkaitan antara kondisi atau variabel situasional dengan watak atau tingkah
laku dan kriteria kinerja pemimpin (Hoy and Miskel 1987).
Model kepemimpinan Fiedler (1967) disebut sebagai model
kontingensi karena model tersebut beranggapan bahwa kontribusi pemimpin
terhadap efektifitas kinerja kelompok tergantung pada cara atau gaya
kepemimpinan (leadership style) dan kesesuaian situasi (the favourableness of
the situation) yang dihadapinya. Menurut Fiedler, ada tiga faktor utama yang
mempengaruhi kesesuaian situasi dan ketiga faktor ini selanjutnya mempengaruhi
keefektifan pemimpin. Ketiga faktor tersebut adalah hubungan antara pemimpin
dan bawahan (leader-member relations), struktur tugas (the task structure) dan
kekuatan posisi (position power).
Hubungan antara pemimpin dan bawahan menjelaskan sampai
sejauh mana pemimpin itu
dipercaya dan disukai oleh bawahan, dan kemauan bawahan untuk mengikuti
petunjuk pemimpin. Struktur tugas menjelaskan sampai sejauh mana tugas-tugas
dalam organisasi didefinisikan secara jelas dan sampai sejauh mana definisi
tugas-tugas tersebut dilengkapi dengan petunjuk yang rinci dan prosedur yang
baku. Kekuatan posisi menjelaskan sampai sejauh mana kekuatan atau kekuasaan
yang dimiliki oleh pemimpin karena posisinya diterapkan dalam organisasi untuk
menanamkan rasa memiliki akan arti penting dan nilai dari tugas-tugas mereka
masing-masing. Kekuatan posisi juga menjelaskan sampai sejauh mana pemimpin
(misalnya) menggunakan otoritasnya dalam memberikan hukuman dan penghargaan,
promosi dan penurunan pangkat (demotions).Model kontingensi yang lain,
Path-Goal Theory, berpendapat bahwa efektifitas pemimpin ditentukan oleh
interaksi antara tingkah laku pemimpin dengan karakteristik situasi (House
1971). Menurut House, tingkah laku pemimpin dapat dikelompokkan dalam 4
kelompok: supportive
leadership (menunjukkan
perhatian terhadap kesejahteraan bawahan dan menciptakan iklim kerja yang
bersahabat), directive
leadership (mengarahkan
bawahan untuk bekerja sesuai dengan peraturan, prosedur dan petunjuk yang ada), participative leadership(konsultasi
dengan bawahan dalam pengambilan keputusan) dan achievement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang
menantang dan menekankan perlunya kinerja yang memuaskan).
MenurutPath-Goal Theory, dua variabel situasi yang sangat
menentukan efektifitas pemimpin adalah karakteristik pribadi para
bawahan/karyawan dan lingkungan internal organisasi seperti misalnya peraturan
dan prosedur yang ada. Walaupun model kepemimpinan kontingensi dianggap lebih
sempurna dibandingkan modelmodel sebelumnya dalam memahami aspek kepemimpinan
dalam organisasi, namun demikian model ini belum dapat menghasilkan klarifikasi
yang jelas tentang kombinasi yang paling efektif antara karakteristik pribadi,
tingkah laku pemimpin dan variabel situasional.
Teori
kepeminmpinan vroom & yetton
Teori kepeminmpinan
vroom & yetton adalah jenis teori kontingensi yang menitikberatkan pada hal
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin. Teori vroom dan yetton juga
di sebut teori normative karena mengarah pada pemberian suatu rekomendasi
tentang gaya kepemimpinan yang sebaiknya di gunakan dalam situasi tertentu.
Dalam hal ini ada 5 jenis cirri pengambilan keputusan dalam teori ini :
1. A-I : pemimpin mengambil sendiri keputusan berasarkan informasi yang ada
padanya saat itu.
2. A-II : pemimpin memperoleh informasi dari bawahannya dan mengambil keputusan
berdasarkan informasi yang didapat. jadi peran bahawan hanya memberikan
informasi, bukan memberikan alternatif.
3. C-I : pemimpin memberitahukan masalah yang sedang terjadi kepada bawahan
secara pribadi, lalu kemudian memperoleh informasi tanpa mengumpulkan semua
bawahannya secara kelompok, setelah itu mengambil keputusan dengan
mempertimbangkan/ tidak gagasan dari bawahannya.
4. C-II : pemimpin mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, lalu
menanyakan gagasan mereka terhadap masalah yang sedang ada, dan mengambil
keputusan dengan mempertimbangkan/tidak gagasan bawahannya
5. G-II : pemimpin memberitahukan masalah kepada bawahanya secara berkelompok,
lalu bersama – sama merundingkan jalan keluarnya, dan mengambil keputusan yang
disetujui oleh semua pihak.
Contoh kepemimpinan yang menggunakan gaya kepemimpinan vroom dan yetton dalam
mengambil keputusan adalah ketua Osis. Apabila dalam melaksanakan tugas
mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan ketua Osis selalu meminta
pendapat dari bawahannya. Dengan mengadakan rapat Osis di mana setiap anggota
berkumpil dan memberikan saran atas msalah yang di hadapi. Contohnya dalam
menyelenggarakan hari kemerdekaan, bagaimana acara dapat berjalan dengan lancar
serta bagaimana mendapatkan dana untuk menyelenggarakan acara tersebut. Ketua
Osis menampung semua pendapat dari bendahara, seksi acara, seksi humas dll.
Dari contoh di atas dapat di ambil kesimpilan bahwa ketua Osis memakai gaya
kepemimpinan G-II yaitu pemimpin memberitahukan masalah kepada bawahanya secara
berkelompok, lalu bersama – sama merundingkan jalan keluarnya, dan mengambil
keputusan yang disetujui oleh semua pihak.
Model jalan
tujuan ( Path-Goal Theory)
Sekarang ini salah satu
pendekatan yang paling diyakini adalah teori path-goal, teori path-goal adalah
suatu model kontijensi kepemimpinan yang dikembangkan oleh Robert House, yang
menyaring elemen-elemen dari penelitian Ohio State tentang kepemimpinan pada inisiating
structure dan consideration serta teori pengharapan
motivasi.
Dasar dari teori ini
adalah bahwa merupakan tugas pemimpin untuk membantu anggotanya dalam mencapai
tujuan mereka dan untuk memberi arah dan dukungan atau keduanya yang dibutuhkan
untuk menjamin tujuan mereka sesuai dengan tujuan kelompok atau organisasi
secara keseluruhan. Istilah path-goal ini datang dari
keyakinan bahwa pemimpin yang efektif memperjelas jalur untuk membantu
anggotanya dari awal sampai ke pencapaian tujuan mereka, dan menciptakan
penelusuran disepanjang jalur yang lebih mudah dengan mengurangi hambatan dan pitfalls (Robbins,
2002).
Menurut teori path-goal, suatu
perilaku pemimpin dapat diterima oleh bawahan pada tingkatan yang ditinjau oleh
mereka sebagai sebuah sumber kepuasan saat itu atau masa mendatang. Perilaku pemimpin
akan memberikan motivasi sepanjang (1) membuat bawahan merasa butuh kepuasan
dalam pencapaian kinerja yang efektif, dan (2) menyediakan ajaran, arahan,
dukungan dan penghargaan yang diperlukan dalam kinerja efektif (Robins, 2002).
Untuk pengujian pernyataan ini, Robert House mengenali empat perilaku pemimpin.
Pemimpin yang berkarakter directive-leader, supportive leader,
participative leader dan achievement-oriented leader. Berlawanan
dengan pandangan Fiedler tentang perilaku pemimpin, House berasumsi bahwa
pemimpin itu bersifat fleksibel. Teori path-goal mengimplikasikan
bahwa pemimpin yang sama mampu menjalankan beberapa atau keseluruhan perilaku
yang bergantung pada situasi (Robins, 2002).
Model kepemimpinan path-goal berusaha
meramalkan efektivitas kepemimpinan dalam berbagai situasi. Menurut model ini,
pemimpin menjadi efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positif,
kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya. Teorinya disebut
sebagai path-goal karena memfokuskan pada bagaimana pimpinan
mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri,
dan jalan untuk menggapai tujuan.
Model path-goal menjelaskan
bagaimana seorang pimpinan dapat memudahkan bawahan melaksanakan tugas dengan
menunjukkan bagaimana prestasi mereka dapat digunakan sebagai alat mencapai
hasil yang mereka inginkan. Teori Pengharapan (Expectancy Theory)
menjelaskan bagaimana sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh hubungan
antara usaha dan prestasi (path-goal) dengan valensi dari
hasil (goal attractiveness). Individu akan memperoleh kepuasan dan
produktif ketika melihat adanya hubungan kuat antara usaha dan prestasi yang
mereka lakukan dengan hasil yang mereka capai dengan nilai tinggi. Model path-goal juga
mengatakan bahwa pimpinan yang paling efektif adalah mereka yang membantu
bawahan mengikuti cara untuk mencapai hasil yang bernilai tinggi.
Secara mendasar, model
ini menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh seorang pimpinan untuk
mempengaruhi persepsi bawahan tentang pekerjaan dan tujuan pribadi mereka dan
juga menjelaskan apa yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin untuk
memotivasi dan memberikan kepuasan kepada bawahannya. Model path-goal menganjurkan
bahwa kepemimpinan terdiri dari dua fungsi dasar:
- Fungsi Pertama; adalah memberi kejelasan alur. Maksudnya, seorang pemimpin harus mampu membantu bawahannya dalam memahami bagaimana cara kerja yang diperlukan di dalam menyelesaikan tugasnya.
- Fungsi Kedua; adalah meningkatkan jumlah hasil (reward) bawahannya dengan memberi dukungan dan perhatian terhadap kebutuhan pribadi mereka.
Untuk membentuk
fungsi-fungsi tersebut, pemimpin dapat mengambil berbagai gaya kepemimpinan.
Empat perbedaan gaya kepemimpinan dijelaskan dalam model path-goal sebagai
berikut (Koontz et al dalam Kajanto, 2003)
- Kepemimpinan pengarah (directive leadership)
Pemimpinan
memberitahukan kepada bawahan apa yang diharapkan dari mereka, memberitahukan
jadwal kerja yang harus disesuaikan dan standar kerja, serta memberikan
bimbingan/arahan secara spesifik tentang cara-cara menyelesaikan tugas
tersebut, termasuk di dalamnya aspek perencanaan, organisasi, koordinasi dan
pengawasan.
- Kepemimpinan pendukung (supportive leadership)
Pemimpin bersifat ramah
dan menunjukkan kepedulian akan kebutuhan bawahan. Ia juga memperlakukan semua
bawahan sama dan menunjukkan tentang keberadaan mereka, status, dan
kebutuhan-kebutuhan pribadi, sebagai usaha untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang
menyenangkan di antara anggota kelompok. Kepemimpinan pendukung (supportive) memberikan
pengaruh yang besar terhadap kinerja bawahan pada saat mereka sedang mengalami
frustasi dan kekecewaan.
- Kepemimpinan partisipatif (participative leadership)
Pemimpin partisipatif
berkonsultasi dengan bawahan dan menggunakan saran-saran dan ide mereka sebelum
mengambil suatu keputusan. Kepemimpinan partisipatif dapat meningkatkan
motivasi kerja bawahan.
- Kepemimpinan berorientasi prestasi (achievement-oriented leadership)
Gaya kepemimpinan dimana
pemimpin menetapkan tujuan yang menantang dan mengharapkan bawahan untuk
berprestasi semaksimal mungkin serta terus menerus mencari pengembangan
prestasi dalam proses pencapaian tujuan tersebut.
Dengan menggunakan salah
satu dari empat gaya di atas, dan dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti
yang diuraikan tersebut, seorang pemimpin harus berusaha untuk mempengaruhi
persepsi para karyawan atau bawahannya dan mampu memberikan motivasi kepada
mereka, dengan cara mengarahkan mereka pada kejelasan tugas-tugasnya,
pencapaian tujuan, kepuasan kerja dan pelaksanaan kerja yang efektif.
Terdapat dua faktor
situasional yang diidentifikasikan kedalam model teori path-goal,
yaitu: personal characteristic of subordinate and environmental
pressures and demmand (Gibson, 2003).
- Karakteristik Bawahan
Pada faktor situasional
ini, teori path-goal memberikan penilaian bahwa perilaku
pemimpin akan bisa diterima oleh bawahan jika para bawahan melihat perilaku
tersebut akan merupakan sumber yang segera bisa memberikan kepuasan atau
sebagai suatu instrumen bagi kepuasan-kepuasan masa depan. Karakteristik
bawahan mencakup tiga hal, yakni:
1)
Letak Kendali (Locus of Control)
Hal ini berkaitan dengan
keyakinan individu sehubungan dengan penentuan hasil. Individu yang mempunyai
letak kendali internal meyakini bahwa hasil (reward) yang mereka
peroleh didasarkan pada usaha yang mereka lakukan sendiri. Sedangkan mereka
yang cenderung letak kendali eksternal meyakini bahwa hasil yang mereka peroleh
dikendalikan oleh kekuatan di luar kontrol pribadi mereka. Orang yang internal
cenderung lebih menyukai gaya kepemimpinan yang participative,
sedangkan eksternal umumnya lebih menyenangi gaya kepemimpinandirective.
2)
Kesediaan untuk Menerima Pengaruh (Authoritarianism)
Kesediaan orang untuk
menerima pengaruh dari orang lain. Bawahan yang tingkat authoritarianism yang
tinggi cenderung merespon gaya kepemimpinan yang directive,
sedangkan bawahan yang tingkat authoritarianismrendah cenderung
memilih gaya kepemimpinan partisipatif.
3)
Kemampuan (Abilities)
Kemampuan dan pengalaman
bawahan akan mempengaruhi apakah mereka dapat bekerja lebih berhasil dengan
pemimpin yang berorientasi prestasi (achievement-oriented) yang
telah menentukan tantangan sasaran yang harus dicapai dan mengharapkan prestasi
yang tinggi, atau pemimpin yang supportive yang lebih suka
memberi dorongan dan mengarahkan mereka. Bawahan yang mempunyai kemampuan yang
tinggi cenderung memilih gaya kepemimpinan achievement oriented,
sedangkan bawahan yang mempunyai kemampuan rendah cenderung memilih pemimpin
yang supportive.
- Karakteristik Lingkungan
pada faktor situasional
ini path-goal menyatakan bahwa perilaku pemimpin akan
menjadi faktor motivasi terhadap para bawahan, jika:
1)
Perilaku tersebut akan memuaskan kebutuhan bawahan sehingga akan memungkinkan
tercapainya efektivitas dalam pelaksanaan kerja.
2)
Perilaku tersebut merupakan komplimen dari lingkungan para bawahan yang dapat
berupa pemberian latihan, dukungan dan penghargaan yang diperlukan untuk
mengidentifikasikan pelaksanaan kerja.
Karakteristik lingkungan
terdiri dari tiga hal, yaitu:
1)
Struktur Tugas
Struktur kerja yang
tinggi akan mengurangi kebutuhan kepemimpinan yang direktif.
2)
Wewenang Formal
Kepemimpinan yang
direktif akan lebih berhasil dibandingkan dengan participative bagi organisasi
dengan strktur wewenang formal yang tinggi
3)
Kelompok Kerja
Kelompok kerja dengan
tingkat kerjasama yang tinggi kurang membutuhkan kepemimpinan supportive.
Dalam dunia kerja, model
kepemimpinan banyak digunakan dengan berbagai model dengan tujuan untuk mendapatkan
hasil yang memuaskan, baik bagi perusahaan maupun para pekerjanya. Teori path
goal ini nampaknya baik digunakan, karena baik pemimpin maupun bawahan
sama-sama bekerja untuk mencapai hasil yang maksimal. Teori ini tidak
mengesampingkan kepentingan pekerja, namun juga tidak mengesampingkan
kepentingan perusahaan.
Perbandingan antara beberapa pendekatan
situasional
Adalah teori kontijensi
yang memusatkan perhatian pada pengikut Mengatakan :
Ø
Jika pengikut tidak
mampu & tidak ingin melakukan tugas pemimpin perlu memberikan alasan yg
khusus dan jelas.
Ø
Jika pengikut tidak
mampu & ingin pemimpin perlu memaparkan orientasi tugas tugas yg tinggi.
Ø
Jika pengikut mampu
& tidak ingin, pemimpin perlu mendukung dan partisipatif Jika pengikut
mampu & ingin, pemimpin tidak perlu berbuat banyak
Beberapa masalah lain mengenai kepemimpinan.
1. Belum secara rutin minimal tiap
bulan sekali dari seluruh unsur pimpinan pengadilan melakukan pembinaan
terhadap bawahan atau stafnya.
Pemecahannya
: Digiatkan pelaksanaan pembinaan dari Ketua dan wakil ketua pengadilan
terhadap seluruh hakim dan pegawai.
- Panitera/sekretaris terhadap jajaran kepaniteraan dan kesekretariatan
- Wakil Panitera terhadap jajaran kepaniteraan dan wakil sekretaris terhadap
jajaran kesekretariatan.
- Kapala bagian kepegawaian, keuangan, umum, panitera muda perkara dan
hukum kepada stafnya masing- masing.
2. Masih adanya kekurangan
pengetahuan tentang kepemimpinan pada pimpinan pengadilan.
Diadakan pendidikan dan pelatihan tentang kepemimpinan.
3. Belum tingginya kesadaran
untuk mewujudkan visi dan misi pengadilan.
Memberikan motivasi kepada seluruh pegawai akan tugas dan tanggung jawab
kinerja pengadilan. Apalagi saat sekarang Mahkamah Agung telah dijadikan
percontohan dalam reformasi birokrasi.
4. Belum secara tegas
penjatuhan sanksi terhadap staf atau bawahan.
Dengan keluarnya Keputusan Ketua Mahkamah Agung No. 071/KMA/SK/V/2008
tanggal 14 Mei 2008 tentang Ketentuan Penegakan Disiplin Kerja Dalam
Pelaksanaan Pemberian Tunjangan Khusus Kinerja Hakim dan Pegawai Negeri pada
Mahkamah Agung dan Badan Peradilan yang berada di bawahnya, dapat dijadikan
dasar untuk meningkatkan disiplin kerja sekaligus penjatuhan sanksi.
5. Masih terjadinya
perselisihan antara unsur pimpinan pengadilan
Perlu adanya komunikasi antara unsur pimpinan.
Menempatkan gaya kepemimpinan (1. Visionary, kepemimpinan yang memiliki
Visi sehingga mampu membawa staf ketujuan bersama 2. Coaching, kepemimpinan
yang memberikan kesempatan pengasuhan ataupun pembelajaran 3. Affiliate,
kepemimpinan yang mengedepankan keharmonisan ataupun kerja sama antar fungsi 4.
Democratic, kepemimpinan yang menghargai pendapat ataupun sudut pandang orang
lain, sekalipun berbeda 5. Pacesetting, kepemimpinan yang mampu memberikan
model pencapaian sehingga lebih membumi 6. Commanding, kepemimpinan yang dapat
bersikap tegas serta berani mengambil resiko, jika diperlukan) sesuai dengan
situasi dan kondisi.
6. Masih adanya pimpinan yang
tidak mau untuk mengikuti perkembangan teknologi.
Mengadakan pelatihan bagi unsur pimpinan pengadilan tentang teknologi
informasi. Minimal sudah dapat mengoperasikan program Ms-Word,
program aplikasi : Keuangan, kepegawaian, barang milik negara, Sistem Akuntasi
Instansi (SAI), Sistem Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran (SAKPA), Sistem
Akuntasi Barang Milik Negara (SABMN) yang sekarang diubah menjadi Sistem
Informasi Manajen dan Akuntasi Keuangan Barang Milik Negara (SIMAKBMN),
penyusunan RKA-KL (Rencana Kerja Anggaran-Kementrian Lembaga).
Membuat desk-service, web-site, e-mail untuk
mempermudah akses publik sebagai wujud transparansi pengadilan.
Langganan:
Postingan (Atom)