Kamis, 02 Mei 2013

Tulisan Bahsa Indonesia 2 #


Kondisi perekonomian Indonesia saat ini
Pendahuluan
Kondisi perekonomian Indonesia saat ini tidak seimbang. Dari berbagai kota yang pernah dikunjungi, pasti pernah terlintas di benak bahwa betapa banyaknya ketimpangan di negeri nan hijau ini. Di satu kawasan, berderet rumah besar, bagus, arsitektur indah, penghuninya sudah ditambah dengan beberapa pembantu, dan deretan mobil mewah pun ada di halaman.
Sebaliknya, masih banyak deretan rumah kardus dan rumah-rumah berpapan bekas dengan keadaan MCK seadanya atau kadang tak ada sama sekali hingga harus menumpang ke masjid. Itulah gambaran sekilas kondisi perekonomian Indonesia saat ini dilihat dari kondisi rumah tinggal rakyatnya.

Masalah Perekonomian Indonesia Saat Ini

Masalah perekonomian di Indonesia yang sempat terjadi bukan hanya masalah deflasi dan inflasi. Sektor ekonomi riil, seperti industri rumah tangga, pangan, maupun jasa, pun terkadang masih mengalami hambatan hingga saat ini sehingga masalah perekonomian yang ada di Indonesia belum tuntas sepenuhnya.
Jika kita mau menghubungkan masalah perekonomian Indonesia dengan pengangguran dan kemiskinan, tentu kondisi ekonomi Indonesia masih jauh disebut stabil. Usaha pemerintah untuk memenuhi kebutuhan pokok pun seringkali mengalami kendala.
Alhasil, kita harus berulang-ulang mengimpor beras atau gandum dari negara lain. Output pertanian kita sampai sekarang masih belum cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam negeri. Inilah salah satu masalah perekonomian di Indonesia.
Kita pernah punya cerita manis dan membanggakan soal ketahanan pangan Indonesia. Ketika Sutan Sjahrir menjadi perdana menteri, Indonesia pernah memberikan bantuan beras kepada India sebanyak 2.000 ton. Prestasi yang sangat luar biasa di saat republik baru seumur jagung.
Namun, bagaimana dengan masalah perekonomian di Indonesia sekarang? India kini telah menjadi bagian dari kekuatan ekonomi Asia yang sangat diperhitungkan, di samping Cina dan Jepang. Berikut ini beberapa masalah perekonomian dilihat dari sektor usaha mikro dan jalur distribusi.

1. Usaha Mikro

Masalah perekonomian di Indonesia salah satunya adalah mengenai usaha mikro. Memang, pemerintah sudah berusaha sebisanya untuk meningkatkan usaha mikro atau usaha kecil.
Bantuan-bantuan berupa dana, penyuluhan, serta kerja sama, pun tidak jarang dilakukan pemerintah dengan pengusaha kecil untuk mengatasi masalah pereonomian di Indonesia ini. Kendala bisanya datang dari persoalan klasik yang hingga kini masih terus berlangsung, yakni birokrasi.
Panjangnya jalur birokrasi di negara kita dalam rangka penyaluran bantuan dan penuntasan masalah perokonomian di Indonesia seringkali menimbulkan keengganan para pengusaha kecil untuk mengambil kesempatan tersebut. 
Mereka mengajukan permohonan dana bantuan dengan membawa proposal dari satu meja birokrasi ke meja yang lain. Tidak jarang pula, di antara mereka menjadi putus asa karena lamanya proses permohonan dan malasnya menghadapi permainan birokrasi. inilah salah satu sebab kenapa masalah perekonomian yang ada di Indonesia sulit diatasi.
Usaha rumah tangga, kerajinan tangan, makanan, dan industri mode, terkadang dihadapkan pula pada persaingan yang tidak setara dengan produk-produk luar negeri. Kampanye pemerintah dalam rangka mendorong kecintaan masyarakat untuk menggunakan produk dalam negeri menjadi tidak berarti ketika impor komoditi terus bertambah. Iklim persaingan yang tidak setara ini muncul karena jumlah kekayaan modal yang dimiliki pengusaha kecil jauh berbeda dengan yang dimiliki para taipan.
Tidak jarang, pengusaha kita seringkali banting setir, berpindah dari satu jenis usaha ke jenis usaha lain. Itu masih dalam kondisi survive, namun beberapa di antara mereka harus rela untuk gulung tikar. Satu hal kecil bagi peningkatan sektor ekonomi mikro yang belum tersentuh pemerintah adalah pendayagunaan pariwisata.
Di Jawa Barat saja, masih banyak alam yang menarik untuk dijadikan pariwisata tetapi belum tersentuh oleh pemerintah. Apa hubungan antara pariwisata dengan ekonomi rakyat dan masalah perekonomian di Indonesia?
Biasanya, ketika di suatu daerah terdapat tempat pariwisata, geliat usaha rakyat akan ikut terdorong. Tengok saja di pantai-pantai yang sudah dikelola dengan baik. Banyak penduduk setempat yang dapat membuka usaha warung makan, bengkel kendaraan, hingga tempat penginapan sederhana. Begitupun, usaha mikro yang dikelola dengan modal rendah tanpa dilengkapi pengetahuan manajemen yang memadai.
Alhasil, usaha hanya dilakukan untuk menyambung hidup dan mempertahankan agar tetap ada. Mereka kesulitan untuk melakukan ekspansi usaha maupun akumulasi modal. Di sinilah, peran pemerintah sangat dibutuhkan dalam menangani masalah perkonomian di Indonesia yang berhubungan dengan usaha mikro.

2. Jalur Distribusi

Distribusi adalah masalah perekonomian di Indonesia yang juga perlu dibenahi. Distribusi merupakan bagian penting dari sebuah kegiatan ekonomi. Lancar atau tidaknya jalur distribusi akan berpengaruh terhadap pasar dan kekuatan ekonomi masyarakat. Terkadang, jalur distribusi yang harus dilewati seseorang begitu panjang sehingga memakan banyak biaya sehingga menjadikannya sebagai masalah perekonomian yang ada di Indonesia yang sudah mentradisi. 
Sebagai contoh, ketika harga cabai di pasar melonjak. Secara sederhana, mestinya petani cabai mendapat keuntungan dari kenaikan ini. Fakta berbicara lain, sebagian besar mereka sama sekali tidak mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga di pasar.
Kondisi ini muncul karena jalur distribusi cabai dari petani hingga ke pasar begitu panjang. Para petani yang tidak memiliki akses langsung ke pasar biasanya menjual hasil panen ke penadah cabai dengan harga yang sudah disepakati. Seharusnya, masalah perkonomian di Indonesia ini harus cepat diatasi. 
Dari penadah, masuk ke tengkulak yang lebih besar dan harganya pun semakin bertambah. Pertambahan ini dipengaruhi pula oleh biaya distribusi yang harus dikeluarkan. Ketika persediaan cabai di pasar berkurang, otomatis harga akan sangat melambung dan keuntungan sudah ada di depan mata para tengkulak.
Petani yang menjadi produsen semestinya mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga. Namun, karena jalur distribusi yang panjang, mereka menjadi pihak yang sangat dirugikan.
Isi

Kondisi Perekonomian Indonesia Dilihat dari PDB

Pendapat Domestik Bruto (PDB) Indonesia saat ini menempati urutan ke-18 dari 20 negara yang mempunyai PDB terbesar di dunia. Hanya ada 5 negara Asia yang masuk ke dalam daftar yang dikeluarkan oleh Bank Dunia. Kelima negara Asia tersebut adalah Jepang (urutan ke-2), Cina (urutan ke-3), India (urutan ke-11), dan Korea Selatan (urutan ke-15).
Indonesia yang kini mempunyai PDB mencapai US$700 miliar, boleh saja berbangga. Apalagi, dengan pendapatan perkapita yang mencapai US$3000 per tahun menempatkan Indonesia di urutan ke-15 negara-negara dengan pendapatan perkapita yang besar.
Belum lagi, Indeks Harga Saham Gabungan yang mencatat rekor terbaik se-Asia Pasifik pada 2010. Bisakah indikator ini dijadikan satu-satunya patokan untuk melihat kondisi perekonomian Indonesia yang sebenarnya?
Ada dua cara penghitungan PDB, pendekatan pengeluaran dan pendekatan pendapatan. Namun, umumnya, digunakan pendekatan pengeluaran yang dirumuskan PDB = konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + ekspor-impor.
Konsumsi adalah pengeluaran yang dilakukan oleh rumah tangga, investasi oleh sektor usaha, pengeluaran pemerintah oleh pemerintah, dan ekspor dan impor yang melibatkan sektor luar negeri.
Dari rumus tersebut dapat dilihat bahwa jika kemiskinan masih terjadi di beberapa tempat, itu artinya ada ketimpangan penyebaran dan pemerataan pertumbuhan ekonomi dari satu tempat ke tempat lain.
Hal ini dapat menimbulkan kecemburuan sosial dan berpotensi konflik yang disebabkan oleh rasa iri dan benci. Untuk meredam potensi konflik tersebut, ada beberapa jalan yang bisa diambil, baik oleh pihak swasta maupun oleh pihak pemerintah.

1. Pihak Swasta

Adanya lembaga-lembaga swadaya masyarakat, seperti Dompet Dhu’afa, bekerja sama dengan Institute Kemandirian yang berusaha mencetak para kaum muda berpotensi menjadi hebat sebagai pejuang ekonomi adalah salah satu cara membuat pemerataan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh semakin banyak rakyat Indonesia.

2. Pihak Pemerintah

Sinergi antarkementerian harus dibuat semakin solid dan saling mendukung, sehingga tidak tumpang tindih dan lebih banyak bermanfaat bagi masyarakat. Kampanye pembentukan jiwa kewirausahaan, seperti seminar bertaraf internasional, adalah salah satu jalan membangkitkan potensi jiwa-jiwa pejuang ekonomi yang pantang menyerah dan penuh kreativitas tinggi.
Penutup
Kesimpulan
Oleh karena itu, perkonomian yang sejahtera dan berkembang dapat dimulai dari diri sendiri. Hidup hemat adalah awal dari membangun perekonomian di Indonesia.  Penduduk Indonesia yang konsumtif tidak mencerminkan hidup hemat dan sejahtera. Lihat saja, barang yang didatangkan dari luar Indonesia, dapat terjual laris dipasaran karena pola hidup masyarakat Indonesia yang konsumtif.
Selain itu, rata-rata penduduk Indonesia selalu menginginkan barang yang baru, padahal barang yang lama masih dapat dipakai. Itulah satu sebab perekonomian di Indonesia tidak merata. Yang kaya tetap kaya dan yang miskin tetap miskin. Tidak ada pemerataan kesejahteraan.

Saran
Untuk itu, mulailah dari diri sendiri dengan menjalani pola hidup yang hemat dan teratur. Apabila barang yang dimiliki masih dapat dipakai, maka manfaatkanlah dengan baik. Atau, membeli barang yang baru dan barang yang lama dapat diberikan kepada orang yang membutuhkan.
Sikap saling memberi dan berbagi juga dapat membantu meningkatan perekonomian yang ada di Indonesia. Pemerataan kesejahteraan masyarakat akan terwujud karena sikap saling berbagi dan memberi tersebut. Demikian sekilas uraian mengenai kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Semoga bermanfaat.

Tugas Bahasa Indonesia 2 #


BERSIKAP ILMIAH
Sikap ilmiah adalah sikap yang seharusnya dimiliki oleh seorang peneliti, untuk dapat melalui proses penelitian yang baik dan hasil yang baik pula.
 Sikap-sikap ilmiah meliputi:
a.       Obyektif terhadap fakta. Obyektif artinya menyatakan segala sesuatu tidak dicampuri oleh perasaan senang atau tidak senang.
Contoh: Seorang peneliti menemukan bukti pengukuran volume benda 0,0034 m3, maka ia harus mengatakan juga 0,0034m3, padahal seharusnya 0,005m3.
b.      Tidak tergesa-gesa mengambil kesimpulan bila belum cukup data yang mendukung kesimpulan itu.
Contoh: Ketika seorang ilmuwan menemukan hasil pengamatan suatu burung mempuyai paruh yang panjang dan lancip, maka dia tidak segera mengatakan semua burung paruhnya panjang dan lancip, sebelum data-datanya cukup kuat mendukung kesimpulan tersebut.
c.       Berhati terbuka artinya bersedia menerima pandangan atau gagasan orang lain, walaupun gagasan tersebut bertentangan dengan penemuannya sendiri. Sementara itu, jika gagasan orang lain memiliki cukup data yang mendukung gagasan tersebut maka ilmuwan tersebut tidak ragu menolak temuannya sendiri.
d.      Tidak mencampuradukkan fakta dengan pendapat.
Contoh: Tinggi batang kacang tanah di pot A pada umur lima (5) hari 2 cm, yang di pot B umur lima hari tingginya 6,5 cm. Orang lain mengatakan tanaman kacang tanah pada pot A terlambat pertumbuhannya, pernyataan orang ini merupakan pendapat bukan fakta.
e.       Bersikap hati-hati. Sikap hati-hati ini ditunjukkan oleh ilmuwan dalam bentuk cara kerja yang didasarkan pada sikap penuh pertimbangan, tidak ceroboh, selalu bekerja sesuai prosedur yang telah ditetapkan, termasuk di dalamnya sikap tidak cepat mengambil kesimpulan. Pengambilan kesimpulan dilakukan dengan penuh kehati-hatian berdasarkan fakta-fakta pendukung yang benar-benar akurat.
f.       Sikap ingin menyelidiki atau keingintahuan (couriosity) yang tinggi. Bagi seorang ilmuwan hal yang dianggap biasa oleh orang pada umumnya, hal itu merupakan hal penting dan layak untuk diselidiki.apabila menghadapi suatu masalah yang baru dikenalnya,maka ia beruasaha mengetahuinya; senang mengajukan pertanyaan tentang obyek dan peristiwa; kebiasaan menggunakan alat indera sebanyak mungkin untuk menyelidiki suatu masalah; memperlihatkan gairah dan kesungguhan dalam menyelesaikan eksprimen.
g.      Sikap menghargai karya orang lain, Tidak akan mengakui dan memandang karya orang lain sebagai karyanya, menerima kebenaran ilmiah walaupun ditemukan oleh orang atau bangsa lain.
h.      Sikap tekun, Tidak bosan mengadakan penyelidikan, bersedia mengulangi eksprimen yang hasilnya meragukan’ tidak akan berhenti melakukan kegiatan –kegiatan apabila belum selesai; terhadap hal-hal yang ingin diketahuinya ia berusaha bekerja dengan teliti.
SUMBER :
http://dya08webmaster.blog.com/2012/04/20/karya-ilmiah-ciri-ciri-macam-macam-sikap-ilmiah

Tugas Bahasa Indonesia 2 #

Langkah-langkah dalam penulisan karya ilmiah

A. Tahap Persiapan
Di dalam tahap ini ada beberapa tahap yaitu :
Menemukan masalah atau mengajukan masalah yang akan dibahas dalam penelitian (didukung oleh latar belakang, identifikasi masalah, batasan, dan rumusan masalah).
 Dalam pemilihan masalah/topik juga mempertimbangkan beberapa hal :
·         Harus topik yang paling menarik perhatian.
·         Terpusat pada segi lingkup yang sempit dan terbatas.
·         Memiliki data dan fakta yang obyektif.
·         Harus diketahui prinsip-prinsip ilmiahnya, meskipun serba sedikit.
·         Harus memiliki sumber acuan / bahan kepustakaan yang dijadikan referensi.
Dalam pembatasan topik/penentuan judul harus memperhatikan beberapa hal berikut :
·         Pembatasan topik harus dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah.
·         Penentuan judul dapat dilakukan sebelum penulisan karya ilmiah / setelah penulisan karya ilmiah selesai. Penentuan judul karya ilmiah : pertanyaan yang mengandung unsur 4W+1H yaitu What (apa), Why (mengapa), When (kapan), Where (dimana) dan How (bagaimana).
Mengembangkan kerangka pemikiran yang berupa kajian teoritis
Mengajukan hipotesis atau jawaban atau dugaan sementara atas penelitian yang akan dilakukan.
Metodologi (mencakup berbagai teknik yang dilakukan dalam pengambilan data, teknik pengukuran, dan teknik analisis data)
Adapun Tahap Pengumpulan data :
·         Pencarian keterangan dari bahan bacaan / referensi.
·         Pengumpulan keterangan dari pihak-pihak yang mengetahui masalah.
·         Pengamatan langsung (observasi) ke obyek yang akan diteliti. Percobaan di laboratorium/ pengujian di lapangan.


B. Tahap Penulisan
Tahap Penulisan merupakan perwujudan tahap persiapan ditambah dengan pembahasan yang dilakukan selama dan setelah penulisan selesai.
TAHAP PENULISAN :
1.      Tahap Prapenulisan
2.      Tahap Penulisan Draft
3.      Tahap Revisi
4.      Tahap Penyuntingan
5.      Tahap Publikasi
Ø  Tahap Prapenulisan
-          Pemilihan dan Pembatasan Topik
-          Merumuskan tujuan
-          Mempertimbangkan Bentuk Karangan
-          Mempertimbangkan bentuk karangan
-          Mempertimbangkan pembaca
-          Mengumpulkan data pendukung
-          Perumusan judul
-          Perumusan tesis
-          Penyusunan ide dalam bentuk kerangka karangan atau outline.
Ø  Pemilihan Topik
·         “Apa yang akan kita tulis?”
·          Topik dapat diperoleh dari berbagai sumber
·         4 syarat : Keterkuasaian, Ketersediaan Bahan, Kemenarikan, Kemanfaatan.
·         Agar lebih focus, topik perlu diberi batasan.





Ø   Tahap Penulisan Draft
o   Mengekspresikan ide-ide ke dalam tulisan kasar
o   Pengembangan ide masih bersifat tentative
o   Pada tahap ini, kensentrasikan perhatian pada ekspresi/gagasan, bukan pada aspek-aspek mekanik
Ø  Tahap Revisi
·         Memperbaiki ide-ide dalam karangan, berfokus pada penambahan, pengurangan, penghilangan, panataan isi sesuai dengan kebutuhan pembaca.
·         Membaca ulang seluruh draft
·         Berbagi pengalaman tentang draft kasar karangan.
·          Merevisi dengan memperhatikan reaksi, komentar atau masukan.
Ø  Tahap Penyuntingan
·         Memperbaiki perubahan-perubahan aspek mekanik karangan.
·         Memperbaiki karangan pada aspek kebahasaan dan kesalahan mekanik yang lain.
·         Aspek mekanik antara lain : huruf kapital, ejaan, struktur kalimat, tanda baca, istilah, kosa kata, format karangan.
·         Melengkapi yang kurang.
·         Membuang yang kurang relevan.
·         Menghindari penyajian yang berulang-ulang atau tumpang tindih (overlapping).
·         Menghindari pemakaian bahasa yang kurang efektif, misalnya dalam penulisan dan pemilihan kata, penyusunan kalimat, penyusunan paragraf, maupun penerapan kaidah ejaan.
Di samping itu penyajian juga merupakan tahapan penyuntingan. Teknik penyajian karya ilmiah harus memperhatikan:
Segi kerapian dan kebersihan.
Tata letak (layout) unsur-unsur dalam format karya ilmiah, misalnya halaman muka (cover), halaman judul, daftar isi, daftar tabel, daftar grafik, daftar gambar, daftar pustaka dan lain-lain.
Standar yang berlaku dalam penulisan karya ilmiah, misalnya standar penulisan kutipan, catatan kaki (foot note), daftar pustaka & penggunaan Bahasa Indonesia sesuai EYD.


Ø  Tahap Publikasi
·         Tulisan akan berarti dan lebih bermanfaat jika dibaca orang lain.
·         Sesuaikan tulisan dengan media publikasi yang akan dituju.
C. Evaluasi
            Evaluasi adalah tahap yang menentukan apakah tujuan tercapai. Evaluasi selalu berkaitan dengan tujuan,apabila dalam penilaian tidak tercapai maka perlu dicari penyababnya.
REFERENSI :

Rabu, 27 Maret 2013

Komp Lembaga Keuangan Perbankan


WORLD FINANCIAL FLOW

Contoh Kasus :
Seorang pengusaha (B) yang membutuhkan modal sebesar 100jt, dan kemudian pengusaha (A) memberikan pinjaman modal kepada pengusaha (B). Dengan alasan kepercayaan tapi harus melalui perantara yaitu ( BANK ) agar pengusaha (A) mendapat keuntungan. jika A mandapat 5% maka BANK mendapat 7% dan apabila pengusah (B) mengalami kebangkrutan maka resiko di tanggung oleh BANK, dan apabila B meninggal dunia, maka BANK akan mencari perusahaan lain untuk ikut menanggung resiko tersebut PT. ABC di sebut sebagai Asuransi jiwa. PT. ABC juga tidak mampu menanggung resiko tersebut maka ia mencari perusahaan lain lagi yaitu PT. DEP yang nanti akan mendapat premi. Tetapi PT. DEP juga masih tidak mampu untuk menanggung resiko dan mencari perusahaan untuk ikut menanggung resikonya yaitu PT. KLM
Tetapi PT. KLM juga masih tidak mampu untuk menanggung resiko dan mencari perusahaan untuk ikut menanggung resikonya yaitu PT. XYZ, karena ia mampu menanggung resiko yang paling besar sekali pun maka ia disebut dengan RESTORASI.

Keuntungan yang akan di dapat : i1 untuk A, i2 untuk B, i3 untuk BANK.

Karena PT. XYZ memiliki kepemilikan diatas 50% yang tidak di perbolehkan oleh pemerintah, maka PT. XYZ menginvestaikannya ke BANK karena keuntungan yang rendah. maka BANK membuat perusahaan leassing yang mengasuransikannya kepada PT. ABC, karena ingin mendapatkan keuntungan yang  lebih besar lagi maka di jual ke pasar modal yamg kemudian di beli oleh PT. XYZ. PT. XYZ juga membuka perusahaan di Indonesia dan membeli saham 20% dari pasar modal. Untuk tidak merugi PT. XYZ juga menginvestasikan kepada siti agar dapat membayar premi asuransi di dalam Retro cessi yang di dalamnya terdapat PT. ABC, PT. DEP dan PT. KLM.

Rabu, 20 Maret 2013

Tugas Bahasa Indonesia 2 #


PENALARAN
1.     Pendahuluan
Untuk itu akan dikemukakan pertama-tama masalah penalaran yaitu bagaimana dapat dirumuskan pendapat yang benar sebagai hasil dari suatu proses berfikir untuk merakit fakta- fakta menuju suatu kesimpulan yang dapat diterima oleh akal sehat. Masalah ini yang harus dibicarakan sebelum berbicara mengenai tulisan argumentasi adalah mengenai beberapa corak penalaran. Ketiga, bagaimana mengadakan penilaian atau penolakan atas pendapatan orang-orang lain atau pendapat sendiri yang pernah dicetuskan dengan prinsip-prinsip itu akhirnya dikembangkan bagaimana menyusun tulisan argumentasi itu sendiri. Dan kelima, akan di kemukakan pula masalah persuasi yang mengenai pertalian sangat erat dengan argumentasi dan bahkan sering diadakan pengacauan atas dua istilah tersebut.
Dalam tulisan sering kita kutip pendapat orang yang terkenal untuk memperkuat bukti kita. Yang benar adalah bahwa orang itu menjadi besar dan terkenal karena pendapat dan pikirannya yang diterima dan di kagumi orang sebagai pendapat dan pikiran yang benar dan luhur. Sebagai manusia siapa saja dapat membuat kesalahan dan kehilafan. Sebab itu setia penulis harus bersikap keritis menghadapi pendapat orang-orang lain baik orang yang terkenal maupun yang kurang terkenal.
2.      Proporsi
Penalaran (reasoning, jalan pikiran) adalah suatu proses berfikir yang berusaha menghubung-hubungkan fakta-fakta atau evidensi yang diketahui menuju suatu kesimpulan bila kita dibandingkan argumentasi dengan sebuah bangunan, maka fakta, evidensi, dan sebagainya dapat disamakan dengan batu bata, batu kali, semen dsb sedangkan proses penalaran itu senddiri dapat disamakan dengan bagan atau arsitektur untuk membangun gedung tersebut, penalaran merupakan sebuah proses berfikir untuk mencapai tujuan yang logis.
Penalaran dilakukan dengan mengunakan fakta-fakta yang masih berbentuk polos, yang telah dirumuskan kedalam kalimat-kalimat yang berbentuk pendapat atau kesimpulan.
Contoh :
Semua manusia akan mati pada suatu waktu
Beberapa orang Indonesia memiliki kekayaan yang berlimpah-limpah
Kota bandung hancur dalam perang dunia kedua karena bom atom
Semua gajah telah punah tahun 1980
3.      Inferensi dan implikasi
Kata inferensi berasal dari kata latin inferred yang berati menari kesimpulan. Kata implikasi berasal juga dari bahasa latin yaitu kata implikare yang berarti melibat atau merangkum. Dalam logika, juga dalam bidang ilmiah lainnya kata inferensi adalah kesimpulan yang diturunkan dari apa yang ada atau dari fakta-fakta yang ada. Sedangkan implikasi adalah rangkuman, yaitu sesuatu yang dianggap ada karena sudah dirangkum fakta atau eviden itu sendiri.
Contoh :
Bila seorang ibu mendengar tetesan air didalam kamar mandi maka ia menarik kesimpulan bahwa kerannya bocor atau kurang cermat ditutup. Untuk menetapkan kesimpulan mana yang mempunyai kemungkinan yang paling tinggi harus dipertimbangkan dua faktor : bagaimana kebiasaan penghini rumah mempergunakan keran serta beberapa lama usia keran itu. Jika si adi mempunyai kebiasaan membiarkan keran terbuka maka ibu dapat mengambil kesimpulan (dalam hal ini inferensi) bahwa : adi tidak menutup keran dengan cermat tetapi keran itu tidak dapat titutup normal maka perlu diganti.
4.      Wujud evidensi
Dalam wujudnya yang paling rendah evidensi itu berbentuk data atau informasi. yang dimaksud dengan data atau informasi adalah bahan keterangan yang diperoleh dari sember tertentu. Untuk itu penulis atau pembicara harus mengadakan penujian atas data dan iformasi tersebut,apakah semua bahan keterangan itu merupakan fakta.
5.      Cara menguji data
a.       Observasi
Fakta_fakta yang diajukan sebagaian evidensi mungkin belum memuaskan seseorang pengarang atau penulis.untuk menyakinn dirinya sendiri dan sekaligus dapat mengunakannya sebaik-baiknya dalam usaha menyakinkan para pembaca, maka kadang-kadang pengarang merasa perlu untuk mengadakan peninjauan atau observasi singkat untuk mengecek data data atau informasi itu. Dan sesungguhnya dalam banyak hal pertanyaan-pertanyaan yang diberikan seseorang, biasanya didasarkan pula atas observasi yang telah diadakan.
b.      Kesaksian
Keseharusan menguji data dan informasi, tidak selalu dilakukan dengan observasi. Kadang-kadang sangat sulit untuk mengaruskan seseorang mengadakan observasi atas obyek yang akan dibicarakan. Kesulitan itu terjadi karena waktu, tempat, dan biaya yang harus dikeluarkan.
c.       Autoritas
Cara ketiga yang dipergunakan untuk menguji fakta dalam usaha menyusun evidensi adalah meminta pendapat dari suatu autoritas, yakni pendapat dari seorang ahli, atau mereka yang telah menyelidiki fakta-fakta itu dengan cermat, memperhatikan semua kesaksian, menilai semua keahlian mereka dalam bidang itu.
6.      Cara menguji fakta
Sebagai telah dikemukakan diatas, untuk menetapkan apakah data atau informasi yang kita peroleh itu merupakan fakta, maka harus diadakan penilaian, apakah data-data atau informasi itu merupakan kenyataan atau hal yang sungguh-sungguh terjadi. Penilaian tersebut baru merupakan penilaian-penilaian tingkat pertama. Penilaian tingkat pertama hanya diarahkan untuk mendapatkan keyakinan, bahwa semua bahan itu adalah fakta.
a.       Dasar pertama yang dipakai untuk menetapkan fakta mana yang akan dipakai sebagai evidensi adalah kekonsistenan. Sebuah argumentasi akan kuat dan mempunyai tenaga persuasive yang tinggi, kalau evidensi-evidensinya bersifat konsisten, tidak ada satu evidensi bertentangan atau melemahkan evidensi yang lain. Untuk membuktikan bahwa kita tidak sanggup secara ekonomis, sehingga tidak dapat membayar uang kuliah sekaligus diajukan evidensi seperti : pekerjaan orang tua adalah buruh harian, dari golongan rendah, pendidikan orang tua sekolah dasar tidak taman dan sebagainya.
b.      Koherensi
Dasar kedua yang dapat dipakai untuk mengadakan penilaian fakta mana yang dapat dipergunakan sebagai evidensi adalah masalah koherensi. Semua fakta yang akan digunakan sebagai evidensi harus pula koheren dengan pengalaman-pengalaman manusia, atau sesuai dengan pandangan atau sikap yang berlaku.
7.      Cara menilai autoritas
Seorang penulis yang baik dan obyektif selalu akan menghadiri semua desas-desus, atau kesaksian dari tangan kedua. Penulisan yang baik akan membedakan pula apa yang hanya merupakan pendapat saja, atau pendapat yang sungguh-sungguh didasarkan atas penelitian atau data-data eksperimental. Untuk menilai suatu autoritas, penulis dapat memilih beberapa pokok berikut :
a.       Tidak mengandung prasangka
Dasar pertama yang perlu diketahui oleh penulis adalah bahwa pendapat autoritas sama sekali tidak boleh mengandung prasangka. Yang tidak mengandung prasangka artinya pendapat itu disusun berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli itu sendiri, atau didasarkan pada hasil-hasil eksperimental yang dilakukannya. Pengertian tidak mengandung prasangka juga mencangkup hal lain, yaitu bahwa autoritas itu tidak boleh memperoleh keuntungan pribadi dari data-data eksperimentalnya.
b.      Dasar kedua yang harus diperhitungkan penulis untuk menilai pendapatan suatu autoritas adalah menyangkut pengalaman dan pendidikan autoritas. Pendidikan yang diperoleh menjadi jaminan awal. Pendidikan yang diperolehnya harus dikembangkan lebih lanjut dalam kegiatan-kegiatan sebagai seorang ahli yang diperoleh melalui pendidikannya tadi.
c.       Kemashuran dan prestise
Faktor ketiga yang harus diperhatikan oleh penulis untuk menilai autoritas adalah meneliti apakah pertanyaan atau pendapat yang akan dikutip sebagai autoritas itu hanya sekedar bersembunyi di balik kemashuran dan prestise pribadi bidang lain.
d.      Koherensi dengan kemajuan
Hal emapat yang perlu diperhatikan penulis argumentasi adalah apakah pendapat yang diberikan autoritas itu sejalan dengan perkembangan dan kemajuan jaman, atau koheren dengan pendapat atau sikap terakhir dalam bidang itu.
Sumber :

  • Gorys Keraf. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Kamis, 14 Maret 2013

Tugas Bahasa Indonesia 2 #

KARANGAN
  • Karangan ilmiah adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta umum yang ditulis menurut metodelogi dan penulisan yang benar


Ciri-ciri karangan ilmiah
  1. sistematis
  2. objektif
  3. cermat
  4. tidak persuasif
  5. tidak argumentatif
  6. tidak emotif
  7. tidak mengejer keuntungan sendiri
  8. tidak melebih-lebihkan sesuatu


 Bentuk-bentuk karangan ilmia
  1.  skripsi
  2. tesis
  3. disertasi
  4. makalah
  5. penulisan ilmiah
  6. proposal


  • Karangan non ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta peribadi tentang pengetahuan pengalaman dalam kehidupan sehari-hari


        Ciri-ciri karangan non ilmiah
  1. Ditulis berdasarkan fakta pribadi
  2. Fakta yang disimpulkan subyektif
  3.  Gaya bahasa konotatif dan populer
  4. Tidak memuat hipotesis
  5. Penyajian dibarengi dengan sejarah
  6. Bersifat imajinatif
  7. Situasi didramatisir
  8. Bersifat persuasif
  9. Tanpa dukungan bukti
Bentuk- bentuk karngan non-ilmiah, yaitu:
· Dongeng
· Cerpen
· Novel
· Drama
· Roman.



  • Karangan semi ilmiah/ilmiah populer adalah karangan ilmu pengetahuan yang menyajikan fakta peribadi yang ditulis metodelogi penulisan yang benar


Ciri-ciri karangan semi ilmiah
  1. dituliskan berdasarkan fakta yang terjadi
  2. fakta yang disimpulkan subyektif
  3. gaya bahasa formal dan populer
  4. memenntingkan diri si penulis (argumentatif)
  5. bersifat persuasif
Bentuk - bentuk karangan semi ilmiah/ ilmiah populer


  1. artikel, 
  2. editorial, 
  3. opini, 
  4. tips, 
  5. reportase, dan
  6.  resensi buku. Resensi buku adalah bentuk kombinasi antara uraian, ringkasan, dan kritik 
sumber :


  • Mukayat D. Brotowidjoyo. Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Akademika Pressindo, 2002.